Setiap Kerja Tangan Sutarman Diikat. Maysaroh: Sebenarnya Hati Saya Menangis

Jumat, Mei 05, 2017
Pesawaran (SNC):  Sungguh malang nasib Sutarman (17 tahun), warga dusun Sukajaya Desa Sukadadi Kecamatan Gedongtataan Kabupaten Pesawaran. Ia harus merelakan tangannya diikat oleh ibu kandungnya sendiri setiap akan ditinggal kerja.

Ibunya terpaksa mengikatnya karena khawatir dengan keselamatan Sutarman. Sutarman menderita cacat mental sejak lahir dan tidak ada yang menjaganya.

"Sebenarnya hati saya menangis setiap saya mau berangkat kerja (buruh tani). Saya harus mengikat tangan anak saya, saya takut anak saya merangkak ke jalan atau ke kebon yang tak tentu arah," ungkap May Saroh ibu Sutarman, Jumat (5/5/2017).

May Saroh tinggal bedua dengan Sutarman. Ia menjanda sejak 10 tahun yang lalu. Sehari- hari ibu ini menghabiskan waktu menjadi buruh tani demi memenuhi kebutuhan keluarganya

"Saya bekerja sebagai buruh tani manen cabai dari Jam 8 sampai jam 4 sore. Saya dikasi Rp. 30 ribu. Sebenernya ini tidak cukup pak untuk kehidupan sehari tapi harus bagaimana lagi," ucapnya

Terlebih beras Sejahtera (Rastra) yang diharap menjadi andalan tak dapat pula diharapkan, sebab beras yang diberikan oleh pemerintah pusat tersebut diberikan per tiga bulan sekali.

Apalagi beras yang diberikanpun tergolong minim. Untuk tiga bulan lamanya, keluarganya hanya menerima jatah 4 Kg Rastra.

"Raskin (Rastra) keluar 3 bulan sekali itupun mendapat 4 Kg harganya Rp. 12 ribu. Saya memohon kepada dinas dinas agar sekira-kira nya membantu anak saya Sutarman," harap May Saroh memohon. (KTR/ Yani)

Bagikan Berita Melalui

Baca Juga