Kusmin Minta Kantor Desa Bunut Angkat Kaki dari Tanahnya

Selasa, Mei 14, 2019

Pesawaran (SNC) : Gara gara lingkungan dilarang menerima bantuan kebersihan pasca banjir (20/4/2019) lalu. Kursmin (65 thn) warga desa Bunut Kecamatan Way Ratai Kabupaten Pesawaran, meminta Kepala desanya memindahkan kantor dan balai desa yang berdiri diatas tanah miliknya ke lokasi lain

Seperti diketahui Bunut salah satu desa yang terendam banjir 20 April lalu.  Bupati Pesawaran juga pernah menyempatkan diri melihat kondisi banjir disini guna memantau berbagai kerusakan akibat banjir terjadi. Banjir yang terjadi didaerah ini diakui cukup parah

Wahyudin putra dari Kasmin mengatakan, pasca banjir yang terjadi bulan lalu keluarganya bahkan harus naik loteng rumah demi menghindari arus dan genangan air, hal ini lantaran rumahnya berdampingan langsung dengan sungai

"Sebenarnya kita ini gak mau ngungkit ngungkit lah masalah tanah,  cuma kepala desa ini bener bener sudah kelewatan, arogan. Kemarin banjir disini,  kok kepala desa melarang lingkungan sini dibantu, ini ada apa. Itu Satgas penanggulangan bencana desa yang bilang, kalau dia gak bisa bantu lingkungan saya karena dilarang sama kades. Ini rekamannya ada, " ungkap Wahyudin putra Kasmin dikediamannya, Selasa (14/5/2019)

Lantaran larangan ini, pihak keluarga pun akhirnya sepakat jika kantor desa juga tidak boleh lagi berdiri diatas tanah tersebut

Wahyudin memaparkan jika tanah yang berdiri bangunan kantor desa ini adalah milik bapaknya. Pihaknya juga tidak pernah merasa menghibahkan tanah tersebut kepada desa, dan tidak pernah merasa tanda tangan dimanapun yang menyangkut tanah
"Itu bukan hibah tapi cuma pinjam pakai.  Kesepakatan pinjam pakai ini juga sebenarnya tidak melibatkan bapak saya (Kusmin) sebagai yang punya tanah, tapi kepala desa dulu membuat kesepakatan dengan kakaknya bapak saya (Kusman). tapi karena kenal baik dengan kepala desa terdahulu ya sudah bapak saya gak mempermasalahkan kalau hanya pinjam pakai saja, " jelasnya

Dulunya keluarga sudah legowo jika tanah tersebut dipakai untuk kepentingan masyarakat, meskipun merasa tidak dilibatkan dalam perjanjian pinjam tanah milik bapaknya

Hanya saja prilaku kades saat ini memimpin dianggap sudah sangat keterlaluan, sehingga pihaknya menganggap sudah sepantasnya kantor desa hengkang dari tanahnya

"Tanah itu bersertifikat, selama ini bapak saya tidak pernah menyerahkan ke pihak manapun, kalaupun katanya ada surat hibah itu tidak benar dan tidak ada persetujuan dari bapak saya, itu bapak saya masih ada," terang Wahyudin
"Kantor desa itu berdiri dari kepala desa sebelum sebelumnya, dulu masih papan,  status hanya numpang pakai saja. Selama ini kami diam karena katanya buat kepentingan masyarakat, cuma kalau begini jauh dari kepentingan masyarakat lebih baik kantor desa pindah, mending kita wakabkan sekalian untuk kuburan biar jelas manfaatnya," tambahnya

Sementara usai banjir terjadi, Wahyudin kembali menjelaskan bahwa segala kerusakan dan sisa puing puing sudah mereka bersihkan bersama lingkungan, berikut mengupah para pekerja

"Kita bayar pekerja sendiri,  kita membersihkan jalan raya (provinsi) didepan rumah ini karena sudah tertutup lumpur semua orang mau lewat. Kita juga membersihkan sekolahan TK itu pagar beton jebol semua, sampai membersihkan gorong gorong dan lingkungan yang sudah gak karuan karena banjir, "ujarnya. (aji)

Bagikan Berita Melalui

Baca Juga

Terdahulu